Kabupaten Bandung Bersih Sampah 2020 Jangan Cuma Slogan
- Jul 21, 2017
- 4 min read
Mengapresiasi upaya Pemerintah Kabupaten Bandung | Spunbond Tangerang

Untuk beberapa jenis sampah rumah tangga, beberapa jenis sampahnya dapat dimanfaatkan."Jika sampah rumah tangga dikelola sejak lingkungan rumah tangga, maka yang diangkut ke TPA (tempat pembuangan sampah akhir) itu merupakan residu sampah rumah tangga yang memang tidak bisa dimanfaatkan. Dari sisi volumenya pun (sampah yang dibuang ke TPA) pasti akan berkurang. Selain itu, masyarakat pun mempunyai penghasilan lain dari hasil usaha mendaur ulang sampah tersebut. Kami bersedia membantu pemerintah dalam menangani persoalan sampah ini," ujar Adi.Selain diperlukan penyadaran masyarakat secara masif dalam hal pengelolaan sampah, dukungan regulasi pemerintah pun sangat diperlukan. Pasalnya, hingga saat ini sanksi K3 pun belum bisa diterapkan pemerintah.
Di satu sisi, lanjut dia, masih banyaknya warga yang menggunakan kantong kresek pun terus bertambah. Maka, diperlukan adanya regulasi khusus yang mengatur tentang penggunaan kantong kresek misalnya kantong kresek berbayar yang sudah diterapkan beberapa kota/kabupaten di Jawa Barat."Sampah plastik yang saat ini semakin banyak jumlahnya. Harus ada regulasi serius untuk mengendalikan sampah plastik ini, misalnya dikeluarkan peraturan daerah tentang penggunaan kantong kresek berbayar," ungkap dia.Selain itu, menghadirkan teknologi pengelolaan sampah ramah lingkungan pun perlu dilakukan pemerintah. Pasalnya, hingga saat ini pengelolaan sampah baru sebatas dilakukan secara konvensional yakni mengumpulkan dan membuang sampah ke TPA sampah.
Diharapkan, pencanangan yang digulirkan Bupati Bandung Dadang M. Naser itu tidak sebatas seremoni atau hanya isapan jempol belaka.Menurut seorang pegiat lingkungan Paguyuban Warga Peduli Lingkungan (WPL) Kabupaten Bandung Adi M. Yadi, mereka mendukung upaya yang digulirkan Pemerintah Kabupaten Bandung tersebut. Sebab, permasalahan sampah yang saat ini dihadapi pemerintah, merupakan permasalahan bersama. Dengan demikian, diperlukan dukungan aktif seluruh warga Kabupaten Bandung untuk mewujudkan upaya tersebut.
"Membuang sampah pada tempatnya merupakan upaya sederhana untuk mewujudkan Kabupaten Bandung bersih dari ceceran sampah di sana-sini. Selain itu, masyarakat juga semaksimal mungkin harus mampu menangani sampah agar habis di sumbernya. Jika upaya ini tidak disertai peran aktif masyarakat, saya pesimistis program ini akan terwujud,” ungkap Adi yang juga ketua Pawapeling Kabupaten Bandung saat ditemui, Jumat 17 Februari 2017.Masih dikatakan Adi, upaya pengurangan sampah di sumbernya dapat dilakukan masyarakat dengan cara memilah dan memilih sampah yang dapat didaur ulang. Melalui pemanfaatan ini, diharapkan volume sampah di Kabupaten Bandung pun dapat terkurangi.
Plastik Kulit Udang Ramah Lingkungan Buatan Siswi SMA | Spunbond Tangerang
Penelitian dimulai sejak Agustus 2013 sampai Januari 2014. Setelah itu, riset disempurnakan di Institut Teknologi Indonesia (ITI) dan dikembangkan saat Yuke mengikuti program pertukaran pelajar di China.
"Kulit udang itu mengandung bahan polimer, namanya zat kitin, kayak di udang, di kepiting, kulitnya namanya kitin, kitin itu punya polimer alami. Kalau plastik itu polimer sintesis," terang Yuke saat berbincang dengan detikcom di SMA Kharisma Bangsa di Ciputat, Sabtu (20/2/2016).
Riset soal kulit udang untuk plastik pernah juga dibahas oleh para peneliti Biologi di Institut Wyss Harvard, Amerika Serikat, pada tahun 2014 lalu. Mereka menyebut zat yang terkandung di kulit udang bernama chitosan, berasal dari kitin. Para peneliti bisa membuat gelas plastik dari 200 gram kulit udang.
Kampanye melawan plastik untuk belanja sedang digaungkan pemerintah.
Namun di sisi lain, inovasi plastik yang ramah lingkungan pun terus berjalan. Salah satunya plastik kulit udang karya siswi SMA Kharisma Bangsa, Ciputat, Tangsel, Yuke Fadhlillah Kirana.Berawal dari kekhawatirannya melihat masalah sampah di Indonesia yang semakin besar, Yuke tergerak membuat penelitian soal plastik dari kulit udang di program proyek sains sekolah. Bersama rekan-rekannya, dia mulai riset di jurnal soal permasalahan sampah, terutama gambaran 10 tahun ke depan.
Pertahankan Plastik Berbayar | Spunbond Tangerang
Pada 2010, misalnya, Indonesia menghasilkan 3,2 juta metrik ton sampah plastik dari sekitar 275 juta ton sampah plastik dunia.Patut disesalkan kalau program bagus ini berhenti hanya sampai tahap uji coba. Apalagi uji coba ini ternyata berhasil baik. Selama enam bulan masa uji coba, menurut catatan Kementerian, penggunaan kantong plastik di pasar modern turun 25-30 persen. Selama ini program dijalankan dengan dasar Surat Edaran Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun Berbahaya Kementerian Lingkungan Hidup.
Masalahnya, pengaturan program lewat surat edaran selevel pejabat eselon I ini kurang kuat. Di Palembang, misalnya, pada September lalu delapan perusahaan retail sempat diperiksa polisi lantaran dituding melakukan pungutan liar. Hal itulah yang menggelisahkan Aprindo.Aturannya pun ternyata tidak seragam. Tarif Rp 200 itu merupakan angka minimum, dan setiap kepala daerah dipersilakan menentukannya sendiri. Akibatnya, ada daerah mengenakan tarif hingga Rp 1.500. Ada juga daerah yang bahkan tidak mengizinkan sama sekali penggunaan tas plastik.
Pemerintah semestinya meneruskan program kantong plastik berbayar. Penggunaan bahan tak ramah lingkungan itu terbukti menurun drastis sejak uji coba kebijakan ini dijalankan pada Februari lalu. Sayangnya, program tersebut terancam gagal. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) tak lagi bersedia memungut tarif untuk setiap tas kresek yang dipakai konsumen. Mereka mempertanyakan keseriusan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Kementerian memulai uji coba program kantong plastik berbayar di 22 kota. Konsumen di pasar modern harus membayar Rp 200 untuk setiap kantong plastik. Target program ini adalah mengurangi sampah plastik. Sampah plastik merupakan salah satu masalah lingkungan terbesar karena tidak mudah terurai. Jika dibuang ke laut, sampah plastik bisa membunuh ikan di dalamnya dan merusak karang. Data tim peneliti dari University of Georgia pimpinan Jenna Jambeck, yang dirilis pada tahun lalu, memperlihatkan bahwa Indonesia merupakan negara penyumbang sampah plastik nomor dua terbesar di dunia setelah Cina.

Comments