top of page

Mulai Februari, kantong plastik belanja tak gratis

  • Jul 20, 2017
  • 4 min read

Jika anda biasa memakai kantong plastik buat belanja | Spunbond Sablon

"Kalau belanja ke sana, peritel tidak menyediakan kantong plastik secara bebas dan pembeli harus membelinya," kata dia di Jakarta, Rabu (6/1) seperti dikutip Beritasatu.com. Seoal berapa harga yang harus dibayar konsumen, belum diputuskan. "Di Hong Kong, Inggris, dan Amsterdam bayar sekitar 50 sen," ujarnya. Upaya tersebut bisa menurunkan konsumsi plastik sampai 73 persen dengan program kantong plastik berbayar.Kementerian menghitung, selama 10 tahun terakhir penggunaan kantong plastik meningkat terus. Dalam satu dekade, sekitar 9,8 miliar lembar kantong plastik digunakan oleh masyarakat Indonesia setiap tahunnya. Dari jumlah itu, hampir 95 persen kantong plastik menjadi sampah. Sedangkan tanah butuh waktu sangat lama mengurai sampah plastik.

Kebijakan kantong plastik berbayar sudah mulai diterapkan di Bandung dan Cimahi. Menurut infobandung.co. Pemerintah Kota Bandung telah memberlakukan Perda Kota Bandung 17/2012 tentang 'Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik yang Tidak Ramah Lingkungan'."Tadinya malah saya kepikiran yang lebih tegas, yaitu sama sekali melarang kantong plastik. Namun, #pay4plastic ini bisa menjadi solusi jangka pendek, tetapi untuk solusi jangka menengah di Bandung akan dikaji untuk pelarangan kantong plastik," ujar Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil, seperti dikutip dari infobandung.co.Indonesia menduduki peringkat kedua "pembuang" sampah plastik ke laut setelah Tiongkok. Menurut data Kementerian Pekerjaan Umum, produksi sampah plastik di Indonesia menduduki peringkat kedua penghasil sampah domestik yaitu 5,4 juta ton per tahun.

"Berdasarkan data statistik persampahan domestik Indonesia, jumlah sampah plastik tersebut merupakan 14 persen dari total produksi sampah di Indonesia," kata Ketua Umum "Indonesia Solid Waste Association" (InSWA), Sri Bebassari.Sementara berdasarkan data dari Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jakarta, tumpukan sampah di wilayah DKI Jakarta mencapai lebih dari 6.000 ton per hari dan sekitar 13 persen diantaranya berupa sampah plastik.Dari seluruh sampah yang ada di pantai, 57 persen berupa sampah plastik. Sampah ini mengapung dan bahkan hingga tenggelam di Samudera Pasifik sudah mencapai hampir 100 meter.Jika anda biasa memakai kantong plastik buat belanja, mulai bulan depan baiknya anda bawa sendiri kantong belanja. Sebab mulai bulan Februari, kantong plastik ini tak lagi gratis. Supermarket dan retail sejenisnya akan mengenakan biaya tambahan untuk membeli kantong plastik belanja.

Pada peringatan Hari Peduli Sampah Nasional pada 21 Februari nanti, pemerintah akan memberlakukan kebijakan kantong plastik berbayar. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan akan memperkenalkan kebijakan kantong plastik berbayar di 17 kota kepada pemerintah daerah, dunia usaha atau peretail modern, dan masyarakat.Kota-kota yang akan menerapkan kebijakan kantong plastik berbayar tersebut adalah DKI Jakarta, Bandung, Bekasi, Depok, Bogor, Tangerang, Solo, Semarang, Surabaya, Denpasar, Palembang, Medan, Balikpapan, Banjarmasin, Makassar, Ambon, dan Jayapura.Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun Berbahaya Kementerian LHK Tuti Hendrawati Mintarsih mengatakan, penerapan plastik berbayar awalnya akan ditujukan kepada retail modern secara bertahap.

Majalengka Hasilkan Sampah 150 Ton Setiap Hari | Spunbond Sablon

“Armada itu hanya melayani pasar desa, (Leuwimunding, Rajagaluh dan lainnya), lalu pasar pemerintah, (Cigasong, Kadipaten, Talaga), dan wilayah pemukiman di perkotaan,” ujarnya.Menurutnya, tempat pembuangan akhir (TPA) di Majalengka harus ada tambahan minimal tiga, karena baru ada satu, itu pun sudah penuh. Luas TPA saat ini, sekitar 7 Ha, berada di Desa Heuleut, Kecamatan Kadipaten.“Bisa ditempatkan di daerah selatan seperti Cikijing, Cingambul atau Talaga. Di wilayah utara, ditempatkan di Ligung, dan lainnya,” pintanya.Pengolahan sampah masih menggunakan open damping, yakni sampah diratakan, lalu ditutup dengan tanah hasil urugan. Diakuinya, pola itu tidak ramah lingkungan dan merusak tanah.

“Kami selalu mengambil tanah yang tidak terpakai untuk menutup sampah. Meski demikian, TPA yang diopen damping harus ditutup dengan tanah. Saya berharap ke depan memiliki teknologi pengolahan sampah yang ramah lingkungan,” katanya.Untuk meminimalisisir volume sampah, disarankan agar masyarakat menggunakan paradigma baru, yakni dipilih, dipilah dan diolah. Sampah rumah tangga harus dipilah organik dan non organik, lalu pilih mana yang bisa dimanfaatkan mana yang tidak, setelah itu diolah.“Jangan menggunakan paradigma lama, yakni kumpul angkut. dikumpulkan sampah, lalu diangkut oleh petugas kebersihan. Kalau bisa dibikin kompos dan kerajinan tangan. Saya juga merasa senang, apabila banyak penggiat lingkungan dapat membantu,” ucapnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) Kabupaten Majalengka, Tatang Rahmat melalui Kepala Bidang Pengolahan Sampah, H Mumu Rudiharto mengungkapkan, Kabupaten Majalengka menghasilkan sampah mencapai 150 ton perharinya. Setiap orang bisa menyumbang 8 kg sampah pertahun.Dia menyebutkan, sampah rumah tangga menjadi penyumbang terbesar dalam hal ini, ditambah sampah pasar dan sampah pemukiman di perkotaan. Khusus untuk pembangunan pemukiman, dia menuding pihak pembuat pemukiman tidak memperhatikan tempat pembuangan sampah di sekitarnya.

Mereka tidak berkordinasi masalah pembuangan sampah, apakah ditarik oleh RT, atau petugas di kebersihan. Kebanyakan dari penghuninya menumpukan sampah bukan pada tempatnya,” ungkapnya, saat ditemui dikantornya. Senin (20/02/2017).Di katakan dia, ada sembilan buah armada milik di Dinas LH, yakni Damtruk dan Amrol, armada ini hanya bisa melayani 15 kecamatan, dari 26 kecamatan yang tersebar di Kabupaten Majalengka. Hal ini mengakibatkan petugas LH tidak bisa melayani lagi permintaan pengambilan sampah sampai pelosok Majalengka, ditambah kurangnya sumber daya manusia.

Ridwan Kamil Minta Warga Bandung Diet Plastik | Spunbond Sablon

"Siapa yang tidak minta kantong plastik diberi poin juga. Poinya setelah terkumpul bisa ditukar barang-barang," ujarnya. Komitmen untuk memberikan penghargaan kepada konsumen yang tidak memakai kantong plastik saat belanja akan disetarakan. Poin-poin yang telah dikumpulkan bisa ditukarkan di 14 supermarket dan ritel yang bekerjasama dengan Pemkot Bandung. "Hanya dengan dukungan toko-toko atau ritel inilah budaya belanya yang biasanya boros kantong plastik bisa dikurangi penggunaannya.”Kepala BPLHD Kota Bandung, Hikmat, mengatakan, beberapa ritel dan supermarket yang ikut mendukung antara lain Hypermart, Indomaret, Yomart, Giant, Yogya dan Griya.Selain itu ada lima pasar tradisional di bawah PD Pasar Bermartabat juga ikut bergabung. "Tinggal merembet ke pasar lainnya," ucap Hikmat.

Pemerintah Kota Bandung akan menerapkan kebijakan yang mendukung lingkungan hidup. Salah satunya dengan melaksanakan Peraturan Daerah (Perda) nomor 17 tahun 2012 tentang Program Pengurangan Sampah Plastik. Perda tersebut sempat mati suri selama hamper tiga tahun.Walikota Bandung Ridwan Kamil mengatakan, Bandung merupakan kota pertama yang mempunyai aturan daerah untuk mengurangi sampah plastik. “Kami sedang memperbanyak konsep pengurangan plastik ini kemana-mana," Ridwan Kamil, Jumat, 28 Agustus 2015.

Salah satu langkah pengurangan sampah plastik yang akan dilakukan oleh Pemkot Bandung adalah dengan menggandeng pengusaha-pengusaha supermarket dan ritel. Mereka diwajibkan untuk mengampanyekan pengurangan kantong plastik belanjaan kepada para konsumennya. "Sudah ada 14 toko-toko dan ritel yang menyatakan komitmennya untuk mengampanyekan kepada para konsumen membawa tas belanja sendiri," ujar Ridwan. Jika para konsumen membawa kantong belanjaan sendiri, kata pria yang akrab disapa Emil ini, pengusaha ritel dan supermarket akan memberikan poin yang bisa ditukarkan dengan hadiah-hadiah menarik.

Comments


Goodybag Tangerang
Goodybag.id
Follow "THIS JUST IN"
  • Facebook Basic Black
  • Twitter Basic Black
  • Black Google+ Icon

Also Featured In

    Like what you read? Donate now and help me provide fresh news and analysis for my readers   

Donate with PayPal

© 2023 by "This Just In". Proudly created with Wix.com

bottom of page