Dari Ban Bekas Menjelma Jadi Tas dan Aksesoris
- Jul 17, 2017
- 4 min read
Sekelompok orang yang tergabung dalam Komunitas Sapu | Spunbond Indonesia

Semuanya ada sekitar 30 item,” tambah Sindu.Ide kreatif Sindu dan kelompoknya ini memang sangat unik. Siapa sangka dari ban-ban bekas yang bagi sebagian orang tak berharga lagi bisa disulap menjadi barang yang tak hanya berguna namun secara estetika juga patut diapresiasi dan ramah lingkungan. Bagaimana ide kreatif ini berawal?Sindu menjelaskan ide ini berawal saat dia aktif berkegiatan di LSM Tanam untuk Kehidupan (TUK), sebuah organisasi non-pemerintah yang bergerak di bidang lingkungan di Salatiga dan sekitarnya, dalam kurun waktu 2006-2010. Di situlah pemuda ini banyak belajar dan mengembangkan ide memproduksi barang-barang daur ulang.
“Tapi ide menciptakan sesuatu dari ban bekas baru muncul pada 2010. Awalnya saya mencoba dari plastik. Namun, menurut saya plastik kurang kuat dan awet untuk memproduksi sesuatu. Setelah melewati banyak eksperimen akhirnya ketemu ban bekas,” katanya sambil menambahkan kini dia sudah memiliki pelanggan pemasok ban bekas dari kota Semarang.Kelebihan ban bekas, lanjut Sindu, selain kuat dan awet, bahan baku ban bekas juga tersedia dalam jumlah yang melimpah. Akhirnya Sindu menetapkan untuk mencoba berkarya menggunakan bahan ban truk bekas.
Di sebuah rumah kayu bergaya khas Jawa di Desa Tetep Gambir, Salatiga, Jawa Tengah, sekelompok orang yang tergabung dalam Komunitas Sapu tengah melakukan sebuah karya kreatif.Diselimuti udara sejuk kota yang terletak di kaki Gunung Merbabu itu, kelompok ini tengah melakukan apa yang mereka sebut sebagai proses “upcycle” barang-barang bekas terutama dari ban bekas truk.
“Kami menyebutnya up cycle karena proses perubahan bentuk dari barang bekas ke barang berguna yang kami ciptakan di sini tak butuh waktu lama,” kata Sindu Prasastyo (33), inisiator kelompok kreatif ini, kepada Kompas.com belum lama ini.Lalu apa yang diproduksi komunitas Sapu ini dari ban-ban bekas tersebut? Ternyata mereka memproduksi berbagai aksesoris seperti gelang atau gantungan kunci hingga berbagai jenis dompet dan tas. “Kami membuat dompet, aksesoris, hingga tas laptop dari ban-ban bekas ini.
Begini Promosi Penggunaan Energi Bersih Lewat Ibu Inspirasi | Spunbond Indonesia
Desainnya sederhana, mudah dipindah dan ringan. Memiliki pengait seperti ember sehingga bisa ditaruh di mana saja sesuai kebutuhan. Cahayanya tak terlalu menyilaukan, cukup untuk membaca buku jika diletakkan cukup dekat dengan objek.Ada berbagai bentuk lampu panel surya ini dengan berbagai ukuran dan bentuk. Yang lebih mahal sekitar Rp500 ribu, lampu panel surya dengan colokan USB untuk charger ponsel.Ada belasan jenis benda-benda unik lain dengan label energi bersih yang dipajang di kantor sekaligus toko di Jalan Raya Pengosekan, Ubud, Kabupaten Gianyar.
Berada di pusat wisata Ubud, memudahkan Kopernik menemui konsumen potensial yang sudah teredukasi soal penggunaan teknologi ramah lingkungan seperti wisatawan dan warga asing yang bermukim di Bali.
Pengunjung akan dimanjakan dengan sejumlah alat dan teknologi tanpa menggunakan listrik dari bahan bakar fosil ini. Ada LifeStraw sejenis sedotan yang berfungsi sebagai filter air yang mudah dibawa dan secara efektif membasmi seluruh bakteri dan parasit penyebab penyakit diare.
Ada lagi sebuah bundel kain yang dinamakan Tas Mantap atau tas untuk masak tanpa api. Ini mengadopsi teknologi sederhana penyimpan panas untuk mematangkan masakan yang baru setengah jadi. Bukan memasak dari bahan mentah. Aneka jenis produk lainnya bisa dicek di web kopernik.ngo. Bentuk dan fungsinya dijelaskan dengan detail. Di Indonesia beroperasi di bawah Yayasan Kopernik.Ternyata itu lampu panel surya dengan pelindungnya. Seperti pengganti lampu teplok minyak tanah di masalalu. Berharga Rp200.000 dengan garansi servis setahun.Penggunaannya mudah, hanya perlu dijemur untuk memanen matahari sebagai sumber daya tiap hari untuk penggunaan harian. Ada dua mode, jika cahaya penuh bisa aktif selama 4 jam sementara cahaya temaram sekitar 8 jam.
Berlian Rp 170.000 di Loakan, Terjual Rp 11 Miliar di Pelelangan | Spunbond Indonesia
Vas bunga seharga Rp 170 ribu itu, sebenarnya, merupakan barang antik, yang diperkirakan dibuat di Istana Kekaisaran Beijing sekitar 220 tahun yang lalu.John Axford, peneliti benda-benda seni Asia di tempat pelelangan Woolley & Wallis, membenarkan 'investasi unggulan' tersebut memiliki empat karakter dari Qianlong - kaisar keenam dinasti Qing - dan dibuat di pabrik istana antara tahun 1736 dan 1795.
Vas antik itu lalu dijual di Salisbury pada bulan November 2016 dengan harga Pound 61.000 (sekitar Rp1 miliar), termasuk premi pembeli. Harga tersebut diperkirakan naik dua kali lipat dari yang yang ditaksir sebelumnya yaitu sekitar Pound 30.000 (atau Rp 506 juta).
Perhiasan menarik lain yang bisa dilihat dalam acara lelang di Sotheby adalah bros berlian Cartier yang dikenakan oleh Margaret Thatcher.Bros itu ia kenakan saat mengajukan pengunduran dirinya sebagai Perdana Menteri kepada sang Ratu.Dengan pola berbentuk huruf V, bros yang awalnya diperkirakan akan mencapai harga Pound 35.000 (atau sekitar Rp 590 juta), akhirnya terjual seharga Pound 81.250 (atau sekitar Rp 1,3 miliar).
Sebuah cincin berlian yang dibeli di lapak barang bekas seharga Pound 10 (atau sekitar Rp 170 ribu), terjual di sebuah balai lelang di London seharga Pound 656.750 (atau sekitar Rp 11 miliar).
Awalnya balai lelang Sotheby's memperkirakan perhiasan itu bisa terjual senilai Pound 350.000 (atau sekitar Rp 6 miliar), namun di luar dugaan, ternyata terjual dengan harga dua kali lipat saat lelang Rabu (7/6).Saat membelinya di lapak loakan di London barat, pada 1980-an, si pemilik cincin yakin bahwa batu dengan 'ukuran tak lazim' ini sekadar perhiasan imitasi. karena ditumpuk bersama benda-benda lain yang kusam.Ia tak menyadari bahwa berlian ia kenakan selama beberapa dasawarsa itu itu memiliki nilai 26 karat.
Diperkirakan berlian putih berbentuk bantal itu berasal dari abad ke-19.Jelang acara lelang, kepala pelelangan yang menangani bagian perhiasan di London, Jessica Wyndham, mengatakan sang pemilik memakainya untuk berbelanja, dan juga kegiatan sehari-hari. Itu adalah cincin yang bagus.
"Tak ada seorang pun yang tahu bahwa berlian itu mempunyai nilai intrinsik. Mereka menikmatinya selama ini."Wyndham mengungkapkan pemilik cincin - yang tidak ingin disebutkan namanya - berpendapat bahwa berlian itu bukan batu permata asli karena berada di tumpukan perhiasan yang 'kusam' dan tidak memancarkan kilau berlian.
Setelah sekitar 30 tahun mengenakan cincin tersebut, si pemilik kemudian membawanya ke balai lelang Sotheby setelah seorang pembuat perhiasan mengatakan bahwa mungkin cincin berlian itu memiliki nilai.
Serba serbi penjualan barang bekasUsai membeli vas bunga antik seharga Pound 10 (atau sekitar Rp 170 ribu) di lapak barang bekas, seorang warga kota Hampshire memutuskan untuk menjualnya di situs lelang eBay.Ketika tawaran melonjak sampai Pound 10.000 (atau sekitar Rp 170 juta), ia pun menariknya - dan mencari bantuan profesional untuk mengidentifikasi apa yang sudah ia beli.

Comments