Putra Majene Ciptakan Plastik yang Bisa Terurai dalam 15 Hari
- Jul 13, 2017
- 4 min read
Selama ini sering kita dengar untuk mengurai plastik itu membutuhkan ratusan tahun | spunbond bag jakarta

"Plastik yang saya buat telah diuji kekuatan dan elastisitasnya dengan mesin instron ASTM D638 (pengujian kekuatan dan elastisitas plastik, Red). Hasilnya sama seperti plastik kualitas nomor satu," ungkap Asrar.Nilai plus lain dari plastik buatan Asrar adalah tidak terpaku pada satu jenis plastik saja. Bahkan plastik kualitas rendahan juga dapat diubah, tidak seperti mekanisme recycle yang hanya bisa dilakukan pada plastik kualitas bagus saja.
Anak keempat dari lima bersaudara itu menambahkan, kini sedang menggodok penelitian lanjutan terhadap plastik buatannya. Dia berencana akan membuat beberapa varian plastik agar bisa dalam pelbagai bentuk.Rencananya, penelitian lanjutan plastik ramah lingkungan itu akan dilakukan untuk program magisternya. "Pengusulan hak paten belum saya lakukan, karena butuh dana yang besar," pungkasnya.
Selama ini sering kita dengar untuk mengurai plastik itu membutuhkan ratusan tahun. Namun hal itu dibantah Asrar Rahman. Dia berhasil menciptakan plastik ramah lingkungan.Sekilas, plastik ciptaan Asrar tampak sama dengan plastik yang beredar di pasaran. Tetapi, jika diteliti lebih jauh, terdapat perbedaan yang sangat signifikan. Plastik yang beredar di pasaran membutuhkan waktu 100-150 tahun agar dapat terurai. Asrar mengolah berbagai bahan untuk menciptakan plastik yang hanya membutuhkan waktu 15 hari untuk terurai.
Pria kelahiran Majene ini mengatakan, ide awal penelitiannya dari keprihatinan terhadap pengolahan plastik yang masih belum maksimal di Indonesia. Kebanyakan hanya melakukan daur ulang. Daur ulang hanya menggunakan plastik kualitas baik, sedangkan plastik kualitas rendah tidak terpakai."Setelah melakukan studi literasi, saya mendapat artikel tentang kandungan pati sagu yang mirip polimer. Saya berpikir bisa digunakan sebagai bahan tambahan pembuatan plastik," tuturnya, Kamis (23/3/2017).
Asrar kemudian mencoba mencampurkan kedua bahan itu untuk menciptakan plastik ramah lingkungan. Mahasiswa yang baru menyelesaikan masa studinya itu menceritakan, untuk membuat plastik ramah lingkungan, dia mencampurkan polimer dari plastik bekas dengan pati sagu dengan mekanisme refluks.
Awalnya plastik dilarutkan menggunakan senyawa xilena kemudian ditambahkan hidrogen peroksida dan pati sagu. Setelah itu ditambahkan lagi asam poliakrilat dan gliserol (zat pembuat elastis).
Plastik Ramah Lingkungan dari Sisik Ikan | spunbond bag jakarta
Plastik dari sisik ikan ini diklaim mudah terurai secara alami atau biodegradable. Adapun senyawa-senyawa yang dapat digunakan untuk membuat plastik biodegradable adalah pati, selulosa, kitin, kasein, dan kitosan."Sisik ikan selama ini belum banyak dimanfaatkan dan dibuang begitu saja. Padahal, dalam limbah sisik ikan terdapat kitin dan kitosan sehingga berpotensi untuk dibuat plastik," ujar Ivone, dilansir dari laman UGM, Rabu (24/2/2015).Mahasiswa Fakultas Teknik UGM tersebut menjelaskan, menggunakan sisik ikan gurami dan kakap untuk membuat plastik biodegradable.
Proses pembuatan plastik, papar dia, dimulai dengan membersihkan limbah sisik kedua jenis ikan tersebut, kemudian menjemurnya.Setelah itu, proses berikutnya adalah pemisahan protein dari kitosan (deproteinasi), lalu demineralisasi untuk memisahkan mineral dari sisik ikan sehingga diperoleh senyawa kitin"Kitosan selanjutnya dilarutkan ke dalam larutan asam asetat dengan diberi tambahan gliserol. Setelah itu, dioven sehingga diperoleh plastik yang diinginkan. Hasil penelitian menunjukkan limbah sisik ikan kakap dan ikan gurami berpotensi untuk digunakan dalam pembuatan plastik," terangnya.
Pembatasan penggunaan plastik semakin digencarkan lantaran menimbulkan pencemaran lingkungan. Bahkan, baru-baru terdapat aturan saat berbelanja konsumen yang tidak membawa tas belanjaan sendiri harus membeli kantong plastik dengan harga tertentu.Terkait hal tersebut, lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), yang terdiri atas Ivone Marselina Nugraha, Cesaria Riza Asyifa, Machlery Agung Pangestu, Palupi Hanggarani, dan Rifani Amanda membuat inovasi plastik ramah lingkungan. Mereka memanfaatkan limbah sisik ikan sebagai bahan bakunya.
Cangkang Udang untuk Kemasan Ramah Lingkungan | spunbond bag jakarta
“Kemasan plastik non degradable (tidak bisa terurai) menyebabkan masalah kesehatan lingkungan dan masyarakat di Mesir, termasuk bagaiman masalah sampah plastik non degredable menjadi kontaminan dalam pasokan air yang sangat mempengaruhi kondisi hidup dari orang miskin,” jelas Dr Everitt.Sejumlah produk biopolimer alami yang terbuat dari bahan tanaman sebenarnya merupakan alternatif ‘hijau’yang semakin populer saat ini.
Akan tetapi dengan penurunan kompetisi tanah dengan tanaman pangan, maka hal tersebut bukanlah solusi yang layak dikembangkan di Mesir.Proyek baru yang dilakukan Everitt dan rekannya ini sebenarnya bertujuan untuk mengubah kulit udang menjadi bagian dari solusi bagaimana mencari bahan alternatif “hijau” untuk kantong belanja.
Kulit udang sendiri merupakan bagian dari masalah sampah di negara tersebut.Dr Everitt mengatakan, penggunaan biopolimer degradable terbuat dari cangkang udang untuk tas atau kantong menyebabkan emisi karbon yang lebih rendah. Pemanfaatan cangkang ini juga untuk mengurangi limbah makanan dan limbah kemasan yang terakumulasi di jalan-jalan atau di tempat pembuangan ilegal. Selain itu, aktifitas ini juga bisa membuat ekspor lebih diterima pasar luar negeri, “ tambah Everitt.
Bioengineers dari University of Nottingham, Inggris, kini tengah mengembangkan pemanfaatan cangkang udang sebagai bahan untuk membuat tas atau kantung belanja biodegradable.Kantong belanja dari cangkang udang ini nantinya diharapkan dapat menjadi alternatif ‘hijau’ untuk menggantikan plastik berbasis minyak. Bahan dari cangkang ini juga sebagai bahan kemasan makanan baru yang mampu memperpanjang masa simpan produk.
Material baru ini nantinya cukup terjangkau dan tersedia sebagai sebuah material tas yang ‘ramah lingkungan’. Material ini kini sedang dioptimalkan di Mesir, terutama untuk pengelolaan sampah yang efektif. Apalagi saat ini Mesir mengalami kendala besar terkait tata kelola limbah rumah tangga dan plastik.
Dr Nicola Everitt, seorang ahli dalam pengujian sifat bahan dari Fakultas Teknik di Nottingham kini tengah memimpin penelitian ini bersama dengan sejumlah akademisi lainnya di Universitas Nil di Mesir.

Comments