Kaltim Buka Kesempatan Berinvestasi
- Jul 11, 2017
- 4 min read
Gubernur Kaltim Dr H Awang Faroek Ishak memberi kabar menggembirakan | pabrik spunbond di indonesia

PT. Tirta Marta bisa segera membangun industri pengolahan plastik berbahan singkong ini di Kaltim. Menurut saya ini sangat potensial untuk dikembangkan di Kaltim. Saya sangat mendukung karena industri ini sangat ramah lingkungan,†kata Awang Faroek dalam kunjungan ke PT Tirta Marta, Senin (11/3).
Dia menjelaskan, saat ini produk-produk hasil pertanian singkong petani, selain dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan lokal Kaltim, sebagian besar juga dikirim ke Negara lain salah satunya China. Sayang, produk yang dikirim tersebut masih berupa produk mentah dan tidak memiliki nilai ekonomi yang tinggi.
Kehadiran industri pengolahan singkong di Kaltim, termasuk industri pengolahan plastik ramah lingkungan sudah bisa dipastikan bakal memberikan dampak yang sangat positif bagi bisnis pertanian singkong di Bumi Etam. Dampak berikutnya adalah kesejahteraan petani dan penciptaan lapangan kerja baru sebagai akibat dari pengembangan industri ramah lingkungan tersebut.Kami akan siapkan karpet merah dan proses perijinan yang cepat. Industri ini saya kira juga bisa dibangun di kawasan ekonomi khusus, Maloy di Kutai Timur. Lahannya bisa kami siapkan,†undang Gubernur Awang Faroek ditujukan kepada pimpinan PT. Tirta Marta.
Gubernur Kaltim Dr H Awang Faroek Ishak memberi kabar menggembirakan bagi para petani singkong di Kaltim. Gubernur mengungkapkan, hasil pertanian singkong petani ternyata mampu diolah menjadi berbagai produk bernilai ekonomi tinggi serta ramah lingkungan.Sebab itulah, Gubernur Awang Faroek membuka kesempatan seluas-luasnya kepada para pemilik modal untuk berinvestasi dalam industri pengolahan singkong, termasuk untuk pengembangan industri plastik ramah lingkungan.
Apalagi, stok singkong Kaltim diprediksi akan terus meningkat seiring Gerakan Menanam Singkong yang telah dicanangkan oleh Gubernur Awang Faroek Ishak sejak tahun lalu.Hal tersebut diungkapkan Gubernur Awang Faroek Ishak usai mengunjungi PT. Tirta Marta, salah satu perusahaan pengolah plastik berbahan dasar singkong yang beroperasi di Tangerang, Banten. Gubernur sangat tertarik dengan industri ramah lingkungan tersebut dan berharap PT. Tirta Marta, bisa segera melakukan kajian lebih teknis untuk kemungkinan membangun industri plastik berbahan dasar singkong.
Impor mesin plastik ramah lingkungan dapat i | pabrik spunbond di indonesia
Direktur Kepabeanan Internasional dan Antar Lembaga Bea Cukai, Robert Leonard Marbun menambahkan, untuk fiskal impor mesin produksi plastik ramah lingkungan, ada beberapa pilihan keringanan. Namun, ia bilang, belum dipastikan akan dipakai yang mana. "Kita masih lihat dulu. Misalnya kerangka mesinnya yang dibebaskan bea masuk, atau pakai pilihan keringanan yang lain. Tapi ini belum diputuskan pakai yang mana," kata Robert.Pengenaan cukai plastik ini, menurut Robert, bukan hal yang mudah untuk diputuskan. Sebab aturan ini diharapkan tidak menimbulkan distorsi ekonomi, meskipun ke depan akan membuat industri plastik dalam negeri menjadi lebih baik.
"Ditargetkan aturan ini selesai tahun lalu, tetapi ini tidak mudah. Mudah-mudahan tahun ini bisa diterapkan," pungkas Robert.Sekjen Indonesian Olefin & Plastic Industry Association (Inaplas), Fajar Budiono melihat rencana pemerintah memberikan insentif untuk impor mesin produksi plastik ramah lingkungan justru akan mematikan industri mesin plastik domestik.Menurutnya, mesin produksi plastik ramah lingkungan yang baru bisa diproduksi di Indonesia adalah mesin plastik dengan bahan baku singkong. Nah, untuk jenis mesin yang lain, industri mesin domestik belum mampu untuk membuat. "Kasihan industri mesin plastik dalam negeri kalau nanti impor dipermudah. Industri dalam negeri akan kena lagi," kata Fajar.
Aturan mengenai cukai plastik masih menimbulkan pro kontra lantaran bisa mengancam kelangsungan bisnis industri plastik dalam negeri. Meski demikian, Direktorat Jenderal Bea Cukai memastikan bahwa cukai plastik akan tetap diberlakukan tahun ini.Heru Pambudi, Dirjen Bea Cukai mengatakan, agar tidak mematikan bisnis plastik, pihaknya akan mengeluarkan sejumlah insentif. Salah satunya yakni akan memberikan tarif cukai yang lebih rendah untuk industri yang memproduksi plastik ramah lingkungan. "Kami akan memberikan privilege kepada perusahaan yang memproduksi objek cukai plastik terutama kresek yang ramah lingkungan," kata Heru kepada KONTAN, Jumat (10/3).
Sayangnya, Heru belum bisa membocorkan berapa lapis kriteria produk plastik ramah lingkungan yang akan kena cukai. Yang jelas, kata dia, akan ada ketentuan tarif yang berbeda di setiap tingkatnya.
Selain itu, Ditjen Bea Cukai juga akan memberikan insentif kepada perusahaan yang mengimpor mesin untuk kepentingan produksi objek cukai plastik ramah lingkungan. Dengan begitu, diharapkan langkah ini bisa mendorong migrasi ke bisnis plastik ramah lingkungan. "Kalau mengimpor mesin atau barang modal, pengusaha bisa juga mendapat insentif fiskal agar dia lebih ringan dan bisa mendorong perusahaan itu menggunakan mesin yang ramah lingkungan," jelas Heru.
Menko Luhut : Plastik Harus Ramah Lingkungan | pabrik spunbond di indonesia
Menko Luhut mengatakan ia bangga mendengar bahwa selain ramah lingkungan produk-produk mereka juga mengutamakan penggunaan konten lokal.“50% local content ya. Jika volume produksi diperbesar harganya bisa turun,” ujarnya kepada wartawan. Meski begitu Menko Luhut mengatakan industri ini perlu berusaha menciptakan inovasi baru untuk mengatasi kekurangannya yang antara lain belum tahan panas.Menko Luhut menegaskan, meskipun industri-industri seperti ini perlu diberikan insentif, tetap perlu dibandingkan dulu dengan dampak lingkungannya. “Untuk masalah cukainya akan dibandingkan dulu dengan dampak lingkungannya.” katanya.
Tangerang, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Pandjaitan mengatakan Pemerintah sedang mendorong penggunaan bahan ramah lingkungan.“Kita sedang cari aturan-aturan supaya penggunaan non-plastik ini bisa dipergunakan lebih luas. Ini berkaitan dengan masalah lingkungan,” ujar Menko Luhut kepada wartawan usai melakukan kunjungan kerja ke produsen non plastik PT. Inter Aneka Lestari Kimia, Tangerang, Banten (08/05).
Didampingi Menteri Perindustrian Airlangga Hartato, Menko Luhut mengatakan Indonesia yang sedang bekerja keras memerangi sampah plastik, menyadari industri dan masyarakat kita masih belum bisa lepas sepenuhnya dari kemasan berbahan plastik.“Tetapi, kemasan tersebut harus tetap ramah lingkungan,” ujarnya.PT. Inter Aneka Kimia menghasilkan produk-produk plastik yang mudah terurai dan lebih ramah lingkungan yang terbuat dari bahan dasar dari singkong bukan minyak bumi seperti plastik pada umumnya.

Comments