Plastik Singkong: Terurai Dua Bulan
- Jul 10, 2017
- 5 min read
Produksi sampah plastik di Jakarta mencapai 523,6 ton per hari | jual tas spunbond eceran

Data Dinas Kebersihan DKI Jakarta pada 2010 menyebutkan produksi sampah plastik di Jakarta mencapai 523,6 ton per hari. Dengan jumlah itu boleh jadi dalam 100 tahun ke depan Jakarta bakal tenggelam dalam timbunan sampah plastik. Itulah sebabnya kampanye untuk menghentikan pemakaian plastik terus dikumandangkan para aktivis lingkungan.Sugianto Tandio tak mau Jakarta tertimbun lautan plastik. Oleh karena itu pemilik PT Tirta Marta, produsen plastik di Cikupa, Tangerang, Banten, itu membuat plastik ramah lingkungan yang bisa cepat terurai. Plastik itu berbahan baku campuran bijih plastik sintetis dan pati singkong.Singkong? Ya, mengapa tidak? Menurut ahli bioteknologi Department of Biotechnology, Faculty of Agro-Industry, Kasetsart University, Bangkok, Thailand, Klanarong Sriroth, pati singkong dapat diolah menjadi asam polilaktat (PLA).
PLA salah satu poliester yang mudah terurai secara alami dan dapat diolah menjadi berbagai produk berbahan plastik. Caranya, pati singkong difermentasi menggunakan enzim hidrolisis. Lalu dimurnikan hingga menghasilkan asam laktat. Asam laktat kemudian dikonversi menjadi laktida pada reaktor dengan penyaluran tekanan dan suhu. Setelah itu laktida diberi katalis hingga menjadi polilaktat.Dalam bentuk itulah Sugianto mencampurnya dengan bijih plastik untuk memproduksi kantong plastik. “Dengan tambahan pati singkong proses penguraian plastik di dalam tanah hanya dalam waktu dua bulan,” tutur alumnus pascasarjana dari The University of North Dakota itu.Sugianto mengadopsi teknologi pencampuran plastik ramah lingkungan dari Amerika Serikat. Di sana plastik cepat urai terbuat dari tepung jagung karena produksinya melimpah ruah. Negara adidaya itu produsen jagung terbesar di dunia.
“Kalau di sini biaya produksi dengan tepung jagung bisa 3 kali lebih mahal ketimbang dengan campuran singkong,” ujar Sugianto.Pati singkong juga dapat diolah menjadi poliester mudah terurai lain, polihidroksialkanoat (PHA). Dalam pembuatan PHA, pati singkong yang merupakan sumber glukosa dimanfaatkan sebagai pakan mikroba mengandung PHA. “Contohnya azotobacter, bacillus, rhizobium, eutropha, dan pseudomonas. Tetapi kandungan PHA terbesar dihasilkan Ralstonia eutropha, mencapai 80%,” ujar Khaswar.Pati singkong dihidrolisis menjadi senyawa karbon sederhana alias monomer. Kemudian ditambahkan senyawa sumber nitrogen, mineral, dan vitamin untuk melengkapi kebutuhan nutrisi mikroba. Penambahan nutrisi juga meningkatkan rendemen PHA.
Dengan pakan itu sel mikroba tumbuh membesar dan menghasilkan PHA berwarna putih yang menyelimuti seluruh sel. PHA diekstrak, lalu diolah menjadi bijih plastik. Kemudian dibuat menjadi lembaran memakai pelarut alami. Agar plastik yang dihasilkan elastis, ditambahkan plasticizer alias pemplastik seperti dimetil ftalat (DMF) dan dietilen glikol (DEG).Menurut peneliti di Balai Besar Kimia dan Kemasan LIPI, Dr Eng Agus Haryono, pemplastik sebaiknya menggunakan bahan alami seperti minyak kelapa sawit yang merupakan sumber asam oleat. Asam itu bahan utama pembuatan plastik polivinilklorida (PVC). PVC relatif ramah lingkungan karena mudah terurai. “Dengan teknologi itu diharapkan tak ada lagi sampah plasik menggunung,” kata Khaswar.
Data Dinas Kebersihan DKI Jakarta pada 2010 menyebutkan produksi sampah plastik di Jakarta mencapai 523,6 ton per hari. Dengan jumlah itu boleh jadi dalam 100 tahun ke depan Jakarta bakal tenggelam dalam timbunan sampah plastik. Itulah sebabnya kampanye untuk menghentikan pemakaian plastik terus dikumandangkan para aktivis lingkungan.Sugianto Tandio tak mau Jakarta tertimbun lautan plastik. Oleh karena itu pemilik PT Tirta Marta, produsen plastik di Cikupa, Tangerang, Banten, itu membuat plastik ramah lingkungan yang bisa cepat terurai. Plastik itu berbahan baku campuran bijih plastik sintetis dan pati singkong.Singkong? Ya, mengapa tidak? Menurut ahli bioteknologi Department of Biotechnology, Faculty of Agro-Industry, Kasetsart University, Bangkok, Thailand, Klanarong Sriroth, pati singkong dapat diolah menjadi asam polilaktat (PLA).
PLA salah satu poliester yang mudah terurai secara alami dan dapat diolah menjadi berbagai produk berbahan plastik. Caranya, pati singkong difermentasi menggunakan enzim hidrolisis. Lalu dimurnikan hingga menghasilkan asam laktat. Asam laktat kemudian dikonversi menjadi laktida pada reaktor dengan penyaluran tekanan dan suhu. Setelah itu laktida diberi katalis hingga menjadi polilaktat.Dalam bentuk itulah Sugianto mencampurnya dengan bijih plastik untuk memproduksi kantong plastik. “Dengan tambahan pati singkong proses penguraian plastik di dalam tanah hanya dalam waktu dua bulan,” tutur alumnus pascasarjana dari The University of North Dakota itu.Sugianto mengadopsi teknologi pencampuran plastik ramah lingkungan dari Amerika Serikat. Di sana plastik cepat urai terbuat dari tepung jagung karena produksinya melimpah ruah. Negara adidaya itu produsen jagung terbesar di dunia.
Kantong Ramah Lingkungan dari Singkong | jual tas spunbond eceran
Menariknya, dengan harga tersebut, perusahaan tidak meraup untung. Ia memprediksi perusahaannya tidak mendapatkan keuntungan sampai tiga tahun ke depan.Telah kita ketahui bahwa di balik kegunaan, kantong plastik merupakan ancaman bagi kelestarian alam apabila tidak dikelola dengan baik. Namun saat ini tersedia kantong yang ramah lingkungan. Seperti yang dilakukan PT Inter Aneka Lestari Kimia dengan membuat kantong ramah lingkungan berbahan dasar tepung singkong bernama Envi Plast.“Envi Plast terbuat dari bahan organik yaitu singkong. Kantong ini merupakan produk ramah lingkungan dan merupakan terobosan terbaru di tengah maraknya isu pemanasan global dan kampanye ‘go green’, untuk itu produk ini akan terus dipasarkan, dan produk ini pertama kalinya ada dunia” jelas Direktur Utama PT Intan Aneka Lestari Herman Moeliana, di Jakarta beberapa waktu lalu.
Keunikan kantong ini, mudah larut dalam suhu air panas 80 derajat Celsius, saat terkena bahan panas seperti setrikaan akan mengeras kemudian rapuh sama seperti kertas dan ketika terbakar tidak meleleh, tetapi rapuh menjadi bubuk.Envi Plast tidak menyebut kantong ini sebagai plastik. Tetapi, lebih kepada kantong ramah lingkungan dan tidak merusak alam. “Ini memang terlihat seperti plastik tapi ini bukan plastik,” tuturnya.Kantong ini bisa tersebar di kalangan masyarakat luas. Agar mereka peduli dengan kondisi bumi yang kian hari kian buruk. “Saya berharap pemerintah dan masyarakat mau menggunakan jenis kantong ramah lingkungan. Ini untuk kemaslahatan bumi,” tuturnya.Ia mengatakan harga kantong ini dua kali lipat dibandingkan plastik berbahan nafta dari minyak bumi. Harga tersebut sesuai dengan biaya yang dikeluarkan untuk membuat mesin dan bahan baku pembuatan kantongnya.perusahaannya tidak mendapatkan keuntungan sampai tiga tahun ke depan.
Telah kita ketahui bahwa di balik kegunaan, kantong plastik merupakan ancaman bagi kelestarian alam apabila tidak dikelola dengan baik. Namun saat ini tersedia kantong yang ramah lingkungan. Seperti yang dilakukan PT Inter Aneka Lestari Kimia dengan membuat kantong ramah lingkungan berbahan dasar tepung singkong bernama Envi Plast.“Envi Plast terbuat dari bahan organik yaitu singkong. Kantong ini merupakan produk ramah lingkungan dan merupakan terobosan terbaru di tengah maraknya isu pemanasan global dan kampanye ‘go green’, untuk itu produk ini akan terus dipasarkan, dan produk ini pertama kalinya ada dunia” jelas Direktur Utama PT Intan Aneka Lestari Herman Moeliana, di Jakarta beberapa waktu lalu.Keunikan kantong ini, mudah larut dalam suhu air panas 80 derajat Celsius, saat terkena bahan panas seperti setrikaan akan mengeras kemudian rapuh sama seperti kertas dan ketika terbakar tidak meleleh, tetapi rapuh menjadi bubuk.
Envi Plast tidak menyebut kantong ini sebagai plastik. Tetapi, lebih kepada kantong ramah lingkungan dan tidak merusak alam. “Ini memang terlihat seperti plastik tapi ini bukan plastik,” tuturnya.Kantong ini bisa tersebar di kalangan masyarakat luas. Agar mereka peduli dengan kondisi bumi yang kian hari kian buruk. “Saya berharap pemerintah dan masyarakat mau menggunakan jenis kantong ramah lingkungan. Ini untuk kemaslahatan bumi,” tuturnya.Ia mengatakan harga kantong ini dua kali lipat dibandingkan plastik berbahan nafta dari minyak bumi. Harga tersebut sesuai dengan biaya yang dikeluarkan untuk membuat mesin dan bahan baku pembuatan kantongnya.Oleh sebab itu, kantong ini didistribusikan ke beberapa company produk untuk disebarluaskan ke konsumen.
Plastik Ramah Lingkungan Berbahan Singkong dan Jagung | jual tas spunbond eceran
Dilansir Yahoo News, meski terbuat dari bahan alami, namun kantong plastik ‘ramah lingkungan’ ini benar-benar bisa digunakan seperti pada umumnya. “Kami tak menggunakan bahan kimia sama sekali. Cat dalam kantong ini pun dibuat dengan cara alami,” ungkap pendiri EnviGreen, Ashwath Hedge.EnviGreen juga mengatakan, keistimewaan kantong buatannya adalah, kantong ini dapat dimusnahkan dengan cara dibakar tanpa meninggalkan sisa atau racun atau dicelupkan dalam air. Bahkan, kantong disebutkan aman jika termakan oleh hewan.Kantong ramah lingkungan yang telah melalui uji coba dari The Karnataka State Pollution Control Board (KSPCB) ini, dijual dengan harga US$0,07 hingga US$0,22 (Rp1.000 hinggaRp3.000).
Sampah plastik menjadi salah satu masalah lingkungan yang tengah jadi perhatan serius. Berniat mengurangi permasalahan tersebut, sebuah perusahaan kreatif India mencoba menciptakan kantong plastik yang 100 persen terbuat dari bahan alami.Kantong plastik buatan perusahaan EnviGreen ini, yang terbuat dari 12 bahan bahan alami termasuk kentang, singkong, jagung, pati alami, minyak sayur pisang dan minyak bunga, diklaim ramah lingkungan.

Comments