Kebijakan Kantong Plastik Berbayar Tak Bikin Mati Gaya
- Jun 16, 2017
- 4 min read
Menyusul negara-negara tetangga lainnya yang lebih dulu menerapkan kebijakan | goody bag jakarta

Tak hanya itu, cara terbaik adalah mengubah gaya berbelanja menjadi lebih cerdas dalam menggunakan kantong belanja. Menjadi cerdas bukan berarti tidak menggunakan kantong belanja sama sekali. Menjadi cerdas berarti menempatkan sesuatu sesuai kebutuhan agar tepat guna dan manfaat.Misalnya, membiasakan belanja dalam jumlah banyak sehingga penggunaan kantong akan lebih efisien dibandingkan dengan belanja dalam jumlah sedikit tetapi sering. Atau, menolak menggunakan kantong untuk belanjaan yang akan langsung dikonsumsi seperti makanan ringan dan air mineral.“Dengan cerdas memilih kantong belanja, kita dapat ikut berpartisipasi mencegah global warming melalui 3R yaitu reuse, reduce dan recycle. Menggunakan kantong belanja bahan kain berulang kali, mengurangi penggunaan kantong plastik dan kita juga dapat membuat kantong belanja dengan bahan yang ramah lingkungan,” pungkasnya.
Menyusul negara-negara tetangga lainnya yang lebih dulu menerapkan kebijakan kantong plastik berbayar, Indonesia juga mulai turut serta. Nah, sebagai masyarakat yang kritis dan peduli lingkungan, boleh deh memulai untuk mencari alternatif tas-tas belanja keren pengganti kantong plastik. masyarakat dihebohkan kebijakan pemerintah untuk menekan pencemaran dengan memberlakukan taktik kantong plastik berbayar untuk belanja di toko ritel. Tanggapan masyarakat pun beragam.Ada yang keberatan, tapi tidak sedikit pula yang menyambut hangat. Peraturan yang direncanakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan itu sudah mulai diberlakukan di banyak kota di Tanah Air, termasuk di Cirebon.
Bila konsumen tetap ingin menggunakan kantong plastik untuk berbelanja, mereka akan dikenakan tarif tambahan. Nah, daripada mengeluarkan tarif untuk menumpuk sampah plastik, masyarakat dianjurkan menggunakan tas belanja yang dapat digunakan berulang kali.Peluang ini yang dimanfaatkan oleh Tajudin Faza. Ia membuat tas belanja berbentuk tote bag yang bisa dipakai berulang kali. Tak hanya itu, desain yang ia buat tak kalah unik agar si pemakai bisa menggunakan tas tersebut untuk belanja sekaligus bergaya.Pria yang akrab disapa Faza ini membuat tas belanja dengan ukuran 37×42 sentimeter dan 32×37 centimeter cukup untuk membawa keperluan rumah tangga. “Untuk bawa segala keperluan rumah tangga cukup, bisa buat belanja dan tas santai juga gaya,” ujar Faza, kepada Radar.
Untuk bahan tas, Faza menggunakan denim dan kanvas. Satu tote bag, ia mematok harga Rp50-60 ribu. Menanggapi kebijakan pemerintah terhadap kantong plastik berbayar, Faza menilai kesadaran konsumen mengurangi penggunaan plastik memang perlu terus ditingkatkan baik melalui kebijakan plastik berbayar atau cara lainnya karena yang terpenting ialah perubahan perilaku pada konsumen.Kriteria utama dalam memilih tote bag belanja menurut Faza adalah daya tahannya. Dengan penampilan unik, tote bag handmade cantik ini terlihat modis, namun memiliki kesan yang menarik dan enak diisi serta dibawa saat belanja.
Bisakah Indonesia Bebas dari Jerat Plastik | goody bag jakarta
Padahal, sekali lagi, kenyataan bahwa plastik sulit diurai bukan sebatas teori.Tak dimungkiri, akan sulit untuk memulai kebiasaan baru agar penggunaan plastik berkurang. Namun bila tidak dimulai, plastik bisa menjadi fosil masa depan.Riset dari Jenna Jambeck dan kawan-kawan pada 2015 menyebutkan, Indonesia merupakan negara penyumbang nomor dua terbanyak sampah plastik ke laut. Sampah yang dihasilkan mencapai 187,2 juta ton.“Sampai ada prediksi pada 2050 jumlah sampah plastik di laut bisa lebih banyak dari jumlah ikan," kata Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun Berbahaya, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Tuti Hendrawati Minarsih, Kamis (28/4/2016).
Fakta bahwa hidup kita dikelilingi oleh plastik adalah benar. Bayangkan, mulai dari peralatan kehidupan sehari-hari seperti alat makan dan pakaian menggunakan material plastik.Tak hanya itu, bahan dasar plastik ternyata juga digunakan untuk kebutuhan gedung dan konstruksi, elektronik, hingga kebutuhan rumah tangga. Padahal, plastik susah terurai ketika sudah menjadi sampah." Plastik adalah kenyataan yang harus dihadapi. Jaket, baju, hingga tas yang kita pakai bisa jadi terbuat dari plastik," ujar Principal Engineer Sentra Teknologi Polimer Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Johan A Nasiri, Selasa (5/4/2016).
Kebutuhan akan plastik, menurut Johan sudah menjadi bagian dari kehidupan. Selain tahan lama, plastik juga dinilai lebih murah. Pada pipa, misalnya, yang terbuat dari logam hanya tahan 8 tahun, sedangkan plastik bisa sampai 20 tahun.Contoh kecil lainnya adalah saat berbelanja. Sejak dulu, kantong plastik sudah digunakan sebagai wadah belanjaan. Melihat kondisi itu, rasanya sulit sekali memisahkan penggunaan plastik dengan kehidupan sehari-hari.
Pria Ini Sukses Bikin Plastik dari Singkong | goodie bag jakarta
Lulusan pasca sarjana University of North Dakota, Amerika Serikat (AS) ini kemudian mulai melakukan penelitian pada tahun 2000. Membutuhkan waktu yang tak pendek, produk plastik ramah lingkungan bisa sempurna pada 2010."Produk tersebut langsung saya patenkan ke Amerika," jelasnya.Produk plastik ramah lingkungan tersebut menggunakan teknologi Oxium dan Ecoplas. Oxium adalah aditif yang ditambahkan ke biji plastik biasa yang membuat plastik akan lebih cepat terurai. Sedangkan Ecoplas adalah plastik yang dibuat menggunakan tepung dari singkong.Ia melanjutkan, untuk produk tas belanja, Oxium sudah hampir menguasai semua gerai retail di Indonesia. "Sekitar 95 persen pasar modern besar sudah memakai Oxium," kata Sugianto.
Pemerintah melakukan uji coba penerapan kantong plastik berbayar di ritel modern mulai 21 Februari 2016. Tujuan penerapan kantong plastik berbayar ini agar masyarakat membawa kantong sendiri. Harapannya, lambat laun akan mengurangi penggunaan plastik.Memang sampah plastik di dunia, terutama di Indonesia sudah cukup besar. Data Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup menyebutkan, Indonesia telah menggunakan 9,8 miliar lembar kantong plastik setiap tahunnya. Dari jumlah tersebut, 95 persen hanya berakhir jadi sampah yang tidak bisa terurai.Sebenarnya, jika produk yang dikembangkan oleh Sugianto Tandio ini sudah dikenal puluhan tahun lalu, sampah plastik yang tidak bisa terurai tersebut bisa terpecahkan.
Pada 2010 lalu, Sugianto mampu mengeluarkan produk inovasi yaitu kantong plastik ramah lingkungan berbahan baku dari singkong. Kantong platik ini bisa terurai lebih cepat jika dibandingkan dengan plastik biasa.Sugianto bercerita, ia telah berkecimpung di dunia plastik sejak 40 tahun lalu. Ia memiliki banyak klien internasional. Di bawah bendera PT Tirta Marta, Sugianto memproduksi kemasan untuk berbagai produk.Pada suatu hari, klien dari Sugianto sedang berlibur di Bali. "Ia melihat di pantai itu banyak sampah dari plastik dan sebagian merupakan produk dari klien tersebut," jelasnya saat berbincang dengan Liputan6.com, Kamis (3/3/2016).Klien tersebut kemudian memberikan tantangan kepada Sugianto untuk memproduksi kemasan plastik yang ramah lingkungan. Ia pun menerima tantangan tersebut.

Comments